R. A. Kartini

Sinopsis
R. A. Kartini adalah sosok yang terlahir dari keluarga biasa. Beruntungnya ia masih bisa merasakan pendidikan, meskipun hanya sampai umur 12th. Yang pada saat itu masyarakat tidak memperbolehkan wanita memiliki pendidikan tinggi. Dikarenakan pemikiran tersebut mebuat Kartini mempunyai keinginan untuk memperjuangkan hak-hak wanita agar setara dengan laki-laki. Meskipun ia harus melawat tradisi yang dianggap setara dan turun temurunnya itu serta halangan lainnya. Tetapi, harapan itu memudar ketika sang ayah menyuruhnya untuk menikah dengan duda yang mempunyai 6 anak. Akhirnya ia pun menyetujui untuk menikah. Sang suami yang mengetahui keinginan Kartini pun memutuskan membebaskan Kartini untuk memperjuangkannya kembali.

R. A. Kartini

Ibu Kartini merupakan salah satu wanita Indonesia yang menjunjung tinggi emansipasi wanita. Ia merupakan pelopor hak wanita untuk dapat memiliki pendidikan yang layak dan setara dengan lainnya. Di hidupnya yang singkat ibu Kartini mampu membuat perubahan yang besar sehingga cerita dongeng ibu Kartini dijelaskan dari generasi ke generasi. 

“Istri saya, lihat anak kami, dia sangat cantik, dia seperti kamu.” Ujar ayah Kartini

“Ya dia sangat menawan, semoga Tuhan membuat dia setia kepada keluarga mereka dan berguna untuk banyak orang.” Ujar Ibunda
 Kartini

“Pasti istri saya, dia akan berguna bagi banyak orang” Ujar ayah Kartini

Ayah Kartini keturunan bupati Jepara sementara ibunya hanya dari kalangan rakyat biasa. Ngasirah guru agama di Teluk Awur, Jepara. Anak dari Kyai Haji Madirono dan Nyai Haji Siti Aminah. Sementara ayah Kartini yakni Adipati Ario Sosroningrat merupakan keturunan Hamengkubuwono VI yang kala itu masih menjabat sebagai pembantu bupati atau Wedana.

Ibu dari Kartini merupakan istri pertama namun bukan istri utama ayahnya. Hal ini disebabkan adanya aturan dari pemerintah Belanda bahwa kalangan bangsawan tak bisa menikahi rakyat biasa. Alhasil ayah Kartini kemudian menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan yakni putri raja Madura.

Istri kedua ayahnya kemudian diangkat menjadi istri utama dan barulah ayah Kartini bisa menjabat menjadi bupati Jepara. Pelantikan ayahnya bertepatan dengan kelahirannya Kartini.

Kartini merupakan anak kelima dan pendidikan di keluarganya dianggap sangat penting. Kakek Kartini yakni pangeran Ario Tjondronegoro IV dikenal sebagai bupati pertama yang mengenalkan pendidikan barat kepada anak-anaknya.

Kisah Perjuangan RA Kartini dalam emansipasi wanita terlihat sejak ia berusia 12 tahun. Walau pendidikan dijunjung tinggi dalam keluarganya namun saat usia tersebut ayah Kartini melarangnya untuk melanjutkan sekolah.

Sebelumnya kartini bersekolah di Europese Lagere School (ELS) di mana ia juga diajarkan berbahasa Belanda. Kartini bahkan dikenal sebagai murid yang cerdas. Ia bahkan sering berkirim surat kepada teman-temannya di Belanda. Tulisannya pernah dimuat dalam sebuah majalah bernama De hollandsche Lelie.

Dari teman korespondensinya Rosa Abendanon dan Estelle “Stella” Zeehandelaar , Kartini mendapatkan majalah, surat kabar bahkan buku. Ia mulai tertarik dengan cara berpikir wanita Eropa yang bebas dan lebih maju ketimbang wanita pribumi. Kartini pun merasa tergerak untuk memajukan pendidikan para perempuan pribumi.

Sayangnya ayahnya malah melarang kartini untuk melanjutkan pendidikannya ketika ia berumur 12 tahun.

“Bolehkah saya meminta maaf kepada ayah saya karena mengganggu Anda, saya ingin menanyakan sesuatu untuk Anda.” Ujar Kartini

“tidak apa-apa sayang, apa yang ingin kamu tanyakan? “ Ujar Ayah Kartini

 “Maaf ayahku, maukah kau memberitahuku mengapa kau melarangku melanjutkan pendidikan ku? Biarkan aku pergi ke sekolah. “ Ujar Kartini

“Sayangku, kamu sekarang berusia 12 tahun, dan sudah waktunya kamu melakukan pengasingan, ini sudah biasa, kamu harus mengikuti aturan.” Ujar ayah Kartini

 “Saya minta maaf ayah, tetapi saya masih ingin pergi ke sekolah, saya akan merindukan mereka, guru saya, saya masih ingin belajar, dan saya masih ingin bermain dengan saudara perempuan saya, Roekmini dan Kardinah.” Ujar Kartini

“Anda harus mengikuti aturan! Apakah Anda berani menentang kebiasaan kami!”
Ujar Ayah Kartini

Ia diminta untuk tinggal di rumah dan dipingit mengikuti tradisi Jawa kala itu. Walaupun dipingit kartini tak lantas berdiam diri. Untuk mengisi waktunya ia lebih sering berkirim surat. Kebanyakan isi surat kartini berupa buah pemikirannya tentang kesulitan wanita pribumi untuk maju karena terhalang tradisi.

“Saya harus memperbaiki hidup saya, meskipun saat ini saya tidak memiliki hak untuk berdebat, setidaknya wanita lain tidak menderita seperti saya. Ya dan saya harus memulainya dengan menulis. Sepertinya menarik ketika saya mulai menulis surat kepada teman saya Rosa Abendanon untuk membagikan ilmunya kepada saya “ Ujar Kartini

Sejak saat itu hubungan antara Rosa dan Kartini bekerja terus menerus, Rosa Abendanon juga sering mengirim buku dan surat kabar Eropa ke Kartini agar pemikirannya menjadi lebih maju. Di surat kabar Eropa mengatakan bahwa perempuan memiliki posisi yang sama untuk mencapai hak mereka sementara di Indonesia, perempuan berada pada status sosial yang rendah.

“Rosa kamu adalah sahabat terbaik, nah, sepertinya tidak cukup kalau aku belajar dari Rosa, aku harus berbagi ini dengan wanita lain, mereka harus memiliki ini. “ Ujar Kartini

Ia mengkritisi tradisi dipingit yang mana mengekang kebebasan perempuan. Ia menuntut kesetaraan baik dalam kehidupan maupun dimata hukum. Ia juga mengangkat isu agama seperti poligami. Tak jarang ia mempertanyakan alasan kenapa kitab suci harus dihafalkan.

Semakin dewasa pemikiran Kartini akan emansipasi wanita semakin kuat. Apalagi ia sering membaca buku-buku asing seperti karya Van Eeden, Louise Coperus atau Augusta de Witt. Ia pun mulai memiliki keinginan yang kuat untuk melanjutkan sekolah ke Jakarta maupun Belanda. Menurutnya fasilitas yang dimiliki keluarganya tidak mampu lagi menunjang pendidikannya.

Sayangnya untuk ke sekiann kali orang tuanya melarangnya pergi. Padahal Kartini sudah mendapatkan beasiswa di Belanda yang akhirnya dilepaskannya. Biarpun begitu orang tuanya mengizinkan Kartini berprofesi sebagai seorang guru. Ia pun mengajar wanita pribumi di belakang pendopo kabupaten Jepara. Kartini mengajarkan bagaimana membaca, menulis, memasak hingga kepribadian.

Tak jarang Kartini mengundang pengukir untuk membuat kerajinan atas desain yang dibuatnya. Hingga saat ini pendopo Kartini masih berdiri megah dan terjaga orisinilitasnya.

Perjuangan Kartini Dimulai Dari Keluarga Walaupun diizinkan mengajar para wanita pribumi pemikiran Kartini sering ditentang keluarganya. Ia bahkan pernah bertengkar dengan kakak-kakaknya karena tidak mau ikut tradisi. Selain cerdas Kartini dikenal sebagai sosok yang pemberontak. Kartini menjadi sosok yang sensitif usai memahami kedudukan ibunya. 

Kartini menyaksikan sendiri bagaimana perlakukan istri ayahnya berbeda walau sama-sama menjadi pasangan. Ngasirah biasanya bertugas di belakang sebagai kepala urusan rumah tangga. Sementara istri kedua ayahnya yakni R.A Moerjam akan sering mendampingi ayahnya melayani tamu dan bersosialisasi ke luar. Ditambah lagi banyaknya buku liberalisme mengubah pola pikir Kartini saat itu.

Ia pernah bertengkar dengan kakaknya Soelastri yang masih sangat konservatif. Hubungan keduanya bahkan pernah merenggang. Tak kapok menyuarakan pendapatnya Kartini bahkan pernah berkali-kali berseteru dengan Slamet yang merupakan kakak laki-laki tertuanya. Saat itu Kartini menolak untuk berjalan jongkok dan menunduk saat bertemu dengan saudaranya yang berusia jauh lebih tua.

Biarpun begitu tak seluruh saudaranya menentang Kartini. Ada kakak kandung Kartini yakni RM Panji Sosrokartono atau sering dipanggilnya Kartono. Ia yang menginspirasi Kartini untuk memperjuangkan hak-hak wanita. Kartono bahkan berprofesi sebagai dokter dan menguasai 24 bahasa asing.

Ada pula adik perempuannya yakni Roekmini dan Kardinah yang sepemikiran dengan Kartini. Keduanya bahkan membantu Kartini membangun sekolah gadis pertama di Jepara.

Ketiganya juga sering menghabiskan waktu bersama dengan belajar membatik dari RA Moerjam. Karya batiknya bahkan pernah dipamerkan pada pameran karya wanita yakni Nationale Tentoonstelling Voor Vrouwenarbeid di Den Haag pada 1898.

Kartini Menikah Saat Berusia 24 Tahun, Ia menikah dengan bupati Rembang bernama Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat atas pilihan orang tuanya, Pada saat itu Kartini berstatus sebagai istri kedua dari Bupati Rembang. Namun suaminya sangat mendukung cita-citanya dan bahkan mengizinkan Kartini membangun sekolah wanita.

“Suami saya, maaf jika saya mengganggu Anda. Jika saya boleh bertanya sebagai istri sang duke, apakah anda mengizinkan saya membangun sekolah untuk seorang wanita? “ Ujar Kartini

 ”Kartini, jika itu adalah keinginan anda, saya akan melakukannya. “ Ujar Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat

“Terimakasih suamiku”
Ujar Kartini

Setahun menikah Kartini kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Anak laki-lakinya lahir pada 13 september 1904. Empat hari setelah melahirkan Kartini meninggal dunia pada 17 september 1904. Usianya masih 25 tahun dan dikebumikan di desa Bulu, kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Buku yang Pernah Ditulisnya
Buah pemikirannya kini bisa pula dibaca dalam bentuk buku. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini terbit pada 1911 yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini. Jacques Henrij Abendanon atau J.H. Abendanon merupakan menteri kebudayaan, agama dan kerajinan Belanda pada tahun 1900-1905.

Saat kepemimpinannya banyak berdiri sekolah untuk orang pribumi. Ia mengumpulkan surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini pada teman-temannya yang tinggal di Eropa. Buku ini juga dialihbahasakan ke beberapa bahasa seperti Melayu, Jawa hingga Sunda.

Dalam satu bukunya tersebut terdapat 87 surat Kartini. Surat-surat ini lalu dibagi ke dalam 5 bab yang menunjukkan perubahan pola pikir Kartini selama berkorespondensi. Memang tidak semua surat Kartini dimuat seluruhnya pada versi terbarunya karena isinya rata-rata memiliki kemiripan. Sementara buku versi lamanya memuat 106 surat.

Selain surat-surat yang pernah dikirimkan Kartini pada sahabatnya, ia juga banyak menulis opini pada majalah dan surat kabar Belanda. Misalnya saja tulisan “Tiga Soedara” pada surat kabar De Locomotief. Surat kabar ini merupakan yang terbesar di Hindia Belanda kala itu. Dari sinilah nama Kartini semakin dikenal publik.

Ia bahkan pernah menuliskan pemikirannya dalam 19 halaman kertas kepada Willem Frederik idenburg dan Gubernur Jenderal Willem Rooseboom pada 1903. Di setiap tulisannya Kartini selalu menitikberatkan pentingnya pendidikan bagi wanita tak peduli golongan priyayi atau pribumi.

Pelajaran Berharga Dari Kisahnya
Kisah hidup Kartini bisa dijadikan dongeng anak yang mampu memberikan banyak pesan moral pada buah hati. Dari dongeng anak Indonesia ini buah hati bisa memahami bahwa pendidikan amatlah penting dimiliki oleh siapa saja, dari kalangan manapun tanpa dibatasi gender. Dari kisah hidupnya ada pesan yang disampaikan Kartini kepada wanita Indonesia.

Wanita tidak boleh dipandang rendah dan berhak diperlakukan sama dengan para laki-laki. Ia berhak mendapatkan pendidikan dan kebebasan atas pilihan dan hidupnya.

Setiap orang juga berhak untuk bermimpi dan meraih cita-citanya termasuk para perempuan. Bila tidak ada mimpi bagaimana kehidupanmu kelak?

Seorang wanita juga perlu mendidik budi pekertinya karena yang bisa menjatuhkan Anda bisa saja dari sikap Anda sendiri

Jangan mudah mengeluh dalam hidup tapi berjuanglah untuk merubahnya agar kebahagian bisa datang.

Sekian.

Nama kelompok:
Revalina Anisah (28) 
Nailil Mafazah (23) 


Komentar